Leisha Patidar kembali menjadi sorotan setelah serial reel bertema FIFA yang menggabungkan elemen kecantikan dan sepak bola menjadi viral. Leisha Patidar mengubah bendera negara dan semangat penggemar menjadi konten makeup yang bergerak, dan hasilnya tak terduga: salah satu video dari rangkaian itu meraih lebih dari 27,6 juta views organik dalam 18 jam sejak dipublikasikan.

Kreasi ini bukan sekadar upaya mengejar jangkauan. Seperti yang dikatakan Patidar, pendekatannya adalah memadukan dunia kecantikan dengan hal-hal yang tak terduga untuk audiensnya: “I love combining beauty with anything people don’t even expect,” kata dia menjelaskan motivasinya. Serial dimulai pada 9 Juni dan membawa pembuat konten ini melewati batas penonton kecantikan dan fashion yang telah ia bangun.
Kreasi yang menyatukan kecantikan dan olahraga
Video-video Patidar dibangun lewat transformasi makeup, potongan visual pemain internasional, dan trek musik yang enerjik. Perpaduan itu membuat konten mudah menembus batas negara dan mendapat respons dari penggemar sepak bola berbagai belahan dunia. Bagi Patidar, momen ketika komentar dan perhatian lintas komunitas itu muncul menandai keberhasilan percobaan tersebut.
Dia menekankan bahwa koneksi dengan sepak bola bukanlah hal yang dibuat-buat. Keluarganya, yang mayoritas laki-laki, kerap membahas olahraga sejak ia kecil. Pengalaman menonton pertandingan dan suasana di sekitar olahraga turut menjadi sumber inspirasinya. Ide reel FIFA lahir setelah menghadiri final IPL di Ahmedabad dan melihat gelombang konten sepak bola yang ramai online—meski saat pengambilan gambar ia sedang tidak sehat dan mengalami demam 103 derajat, ia tetap meneruskan syuting. Patidar mengingat momen itu dengan mengatakan ia tetap merasa menikmati proses meski dalam kondisi kurang prima.
Awal karier, kritik, dan penerimaan audiens
Patidar mulai merintis konten di masa lockdown Covid setelah menyelesaikan kelas 12. Saat itu dia sedang bersama keluarga di Jaipur dan memulai eksperimen makeup dengan peralatan yang terbatas—hanya sekitar lima produk yang dipakai untuk membuat belasan tampilan. Perjalanan itu membuatnya berkembang dari percobaan rumahan menjadi pembuat konten yang kini memiliki lebih dari 1 juta pengikut.
Namun perjalanan itu tak luput dari kritik. Di awal karier, ia sering mendapat komentar negatif yang menyinggung warna kulitnya. “I am a dusky skin tone girl from India. I used to get a lot of hate in my comment section about me being dusky and why I should do makeup,” ujar Patidar. Walau sempat memengaruhi kondisi mentalnya, dukungan penonton yang menjadikan dirinya inspirasi membantu dia bertahan.
Pandangan soal tren, brand, dan masa depan kreator
Pengalaman viral memberi pelajaran penting soal dinamika ekonomi kreator. Menurut Patidar, bergantung hanya pada tren tidak cukup: ada kebutuhan untuk tetap otentik sejak pertama tayangan agar penonton tidak langsung melewatkan konten. “You need to be your authentic self to capture those first three seconds or else people will scroll,” kata dia, sambil menambahkan bahwa tidak mungkin mengikuti semua tren karena “There will be 15 or 20 trends coming in a week. You cannot hop on every single one just to be relevant.”
Dalam hal kerja sama komersial, ia merasakan perubahan seleksi dari sisi brand: kesepakatan tidak lagi sebanyak dulu dan merek lebih berhati-hati memilih mitra. Patidar menegaskan pentingnya kesesuaian produk yang diiklankan dengan audiens dan nilai pribadinya: “I personally work with brands that align with my audience and my authenticity.”
Dia juga menilai agensi memberi nilai tambah karena satu kreator tidak bisa mengurus semua aspek sendiri: “A creator is creating, editing, styling and being behind the camera. You need somebody to support you beyond that, for brands or bigger opportunities,” kata Patidar, yang sejak awal kariernya dikelola oleh Monk Entertainment.
Di luar platform, Patidar berencana memperluas cakupan kontennya ke gaya hidup, travel, kuliner, dan vlog YouTube, serta membuka opsi ke dunia akting. Meski begitu, ia melihat konsistensi sebagai fondasi utama kesuksesannya: “I don’t think there was one turning point. It was overall consistency. I have been working since I was 17. Just showing up every single day, even if you don’t feel like it,” ujarnya. Ketika ditanya memilih viral atau komunitas setia, jawabannya tegas: “A viral reel with my loyal community.”

